“Capek ya..? Aku pijit, nih”, katanya.
Aku bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi kembali minum.
“Masa.., pasti kamu sudah punya. Perempuan mana yg tak mau dgn lelaki ganteng”, katanya
“Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu.
“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”, kataku gemetar.
“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”, katanya.
“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak meskipun aku senang mendapat sanjungan.
“Aku tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.
“Gimana kalau aku tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih.
“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur.
Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian memakai kimononya.
“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu berapa, ya?”, bisiknya. Aku tersenyum senang.
“Makasih. Ada 171. Bu Desta juga cantik sekali”, mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum.
“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik
“Alot juga”, bisikku. Bu Desta yg masih di bawahku tersenyum.
“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun menuruti saja, menekan pinggulku…
Di tengah peristiwa itu bu Desta berbisik
“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.
“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia orgasme.
“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan.
“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.
“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.
“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”, tanyaku agak heran.
“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.
“Kan Ibu yg bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum bersama.
Sebuah wisata seks yg tak terduga sebelomnya. Kenikmatan yg kuraih, prosesnya mulus, semulus paha bu Desta. Singkat, cepat dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan yg menghebohkan..gif)


Comments
Post a Comment